USAI SUDAH - Musa Rizal Al Fath
News Update
Loading...

Saturday, January 18, 2020

USAI SUDAH



Pahit getirnya hidup telah banyak kita lalui. Di setiap hembusan nafas dan deraian air mata. Semua itu telah memberikan cerita tersendiri, di relung hati ini. Sebuah kisah rumit, yang sedang berusaha kita lupakan, namun begitu sulit untuk hilang dari ingatan. Pada akhirnya, kita hanya bisa parsah dengan keadaan.


Tuhan menciptakan manusia beragam. Berbeda-beda, sesuai dengan apa yang telah ditakdirkan. Seperti dalam sebuah perjalanan kehidupan, yang kita sendiri tak pernah tahu kemana dan apa yang akan terjadi pada diri kita di masa depan.


Kita hanya menjalani sesuai dengan apa yang terlah digariskan. Berusaha, dan berharap semoga semua yang kita lakukan akan berakhir dengan kebahagiaan.


Perlahan, kita mulai belajar tentang arti sebuah kehidupan. Beranjak dewasa, dan mulai menyadari tentang beratnya sebuah perjuangan, menerima kenyataan dalam lika-liku kehidupan. Unik memang, hati kita mudah dibolak-balikkan. Yahh mau gimana, itu realitanya.


Menyambung tulisan sebelumnya, “Dunia Membuat Gila”. Ya benar memang dunia ini seakan membuat kita gila. Seandainya saja kita sampai lupa kepada Sang Pencipta Manusia, mungkin kita akan benar-benar dibutakan oleh dunia yang membuat kita gila.


Apasih tujuan kita hidup di dunia.....? kebahagiaan kan.....? kebahagiaan adalah mimpi semua orang. Kebahagiaan adalah hak setiap manusia. Dan kebahagiaan itu akan  muncul dari diri kita sendiri.


Kebahagiaan itu akan hadir tergantung bagaimana kita menyikapi segala keadaan yang dihadapkan pada diri kita.


Perjalanan hidup ini memang tidak bisa berjalan mulus dan selalu sesuai dengan apa yang kita inginkan. Mau kita berjuang sebesar apapun, kalau memang tidak ditakdirkan untuk kita, kita bisa apa....?


Manusia dilahirkan sudah dengan takdirnya masing-masing, karna itu memang sudah menjadi perjanjian sebelum ruh kita ditiupkan dalam rahim ibu kita. Mau ngelak.....? ga bisa.


Guys, tak perlu menyesali apa yang telah terjadi. Yang telah terjadi, biarlah usai, yang telah pergi, biarlah berakhir. Tak perlu dihujat, tak perlu diratapi, semua sudah ditakdirkan kok. Biarlah masa lalu kita kelam, bukankah setiap manusia punya masa depan....?


Kita semua pernah berjuang, kita semua pernah gagal. Kita semua pernah dihadapkan kepada sebuah hal yang tak pernah diinginkan oleh setiap manusia. Kadang, dalam keadaan yang begitu rumit.


Keadaan yang benar-benar membuat kita bingung bahkan membuat kita tak mampu untuk bertindak. Ya mau gimana lagi....? semua yang terjadi udah lepas dari batas kemampuan kita. Takdir yang menentukan segalanya. Takdir yang mengarahkan kemana kaki kita akan melangkah.


Dan pernah sampai pada suatu ketika, dimana saat itu kita sedang berada dalam sebuah fase yang membuat kita benar-benar tak tahu lagi harus berbuat apa. Ketika permasalahan datang secara bergantian, beban hidup kita tak kunjung hilang, dan dalam posisi kita yang sendirian, kita seakan ingin mengeluh bahwa hidup ini ga adil.


Kita seakan ingin segera mengakhiri kisah hidup kita. Sampai pada akhirnya kita cuma bisa pasrah dengan keadaan. Bagaikan botol yang terseret arus air sungai. Kita berjalan tanpa tahu arah kemana kita akan pergi. Kita terombang-ambing tanpa tahu apakah kita akan selamat atau tidak. Kita hanya bisa pasrah.


Ditambah lagi, dalam posisi terendah dalam hidup kita, beban itu masih ditambah dengan kesoktahuan orang yang bahkan belum pernah mengenal kita sebelumnya. Dia menilai seolah dia tahu segalanya. Dia berbicara seolah dialah yang lebih baik. Hmmmmh, namanya juga manusia.


Jujur, aku sendiri juga pernah ngamalin itu. Dan aku pikir semua orang pasti akan mengalami hal yang serupa. Jatuh sejatuh-jatuhnya. Hancur lebur seakan tak ada lagi harapan untuk hidup, kek aku ingin semuanya segera usai.


Saat itu aku cuma bisa pasrah, aku cuma bisa duduk, diam, dan mengiyakan semua yang diperintahkan. Aku bisa saja menolak pada saat itu. Tapi entah mengapa, untuk sekedar menolakpun aku tak sanggup.


Aku begitu lemah saat itu. Aku sempat menyesal. Aku sempat menyesal bahkan membenci diriku sendiri, kenapa aku diam...?  kenapa aku tidak menolak....? mungkin penyesalan ini akan abadi sampai aku mati nanti.


Tapi...
yasudahlah, percuma meratapi apa yang telah terjadi. Percuma aku menyesali itu. Semua telah terjadi. Mungkin itu memang sudah ditakdirkan. Tak perlu diungkit-ungkit lagi. Mungkin dengan adanya itu, aku bisa lebih baik di masa yang akan datang.


Sudahlah... saatnya berhenti mendengarkan apa kata orang. Kita semua brengsek di cerita orang lain. Mungkin akan pahit, mungkin akan sulit untuk kita terima.


Kita sendiri tak pernah tahu, apakah ini berkah atau musibah, tugas kita hanya Berhusnudzan kepada Allah. Ga perlu khawatir, orang yang sayang sama kita, ga mungkin akan ninggalin kita.


Ma'annajah :)





- yang usai, biarlah selesai -

shazarft 2020


Share with your friends

Give us your opinion

Notification
didedikasikan untuk diri sendiri.
Done