Melihat Yang Tak Terlihat - Musa Rizal Al Fath
News Update
Loading...

Friday, March 13, 2020

Melihat Yang Tak Terlihat





Melihat Yang Tak Terlihat
Shazarft 2020



Seiring dengan penciptaan langit dan bumi, serta pergantian siang dan malam, sebagai tanda-tanda dahsyatnya kekuasaan Sang Pencipta Alam. Ditambah lagi dengan segala penciptaan yang penuh akan kesempurnaan. Menjadi saksi kepada kita semua, bahwa kita bukan siapa-siapa. Kita tak bisa berbuat apa-apa tanpa bantuan dan izin dari Sang Pencipta Manusia. Maka betapa angkuhnya kita, jika kita merasa besar akan semua pencapaian yang telah kita terima, padahal semua itu belum seberapa.


Sudah sejak dahulu kala, dan sudah menjadi rahasia masyarakat dunia bahwa sebagai seorang manusia, kita tak bisa hidup sebatangkara. Kita adalah makhluk sosial yang membutuhkan kerja sama. Saling berhubungan, saling berinteraksi, dan saling membutuhkan. Tak heran, jika dalam kehidupan kita, manusia saling melihat dan menyaksikan antara satu dengan yang lainnya.


Tidaklah Allah menciptakan semua ini tanpa fungsi. Tidaklah Allah menciptakan semua yang ada dengan sia-sia. Semua punya tujuan, semua punya makna. Layaknya mata untuk melihat, ataupun telinga untuk mendengar apa yang ada disekitar kita. Begitupun diri kita, pasti ada tujuan dan kegunaannya. Soal itu  apa, nanti jika saatnya tiba, kita juga akan tahu dengan sendirinya.


Seperti pada tulisan-tulisan sebelumnya, manusia memang tidak dilahirkan sempurna. Penuh pencarian, dan mungkin akan tersesat. Tapi yang pasti, kita diciptakan untuk saling menyempurnakan. Itulah mengapa semua diciptakan berpasang-pasangan, saling menyeimbangkan. Jadi wajar, jika manusia melakukan kesalahan, berbuat dosa atau berbuat kerusakan. Yahh.. itu memang sudah fitrah setiap manusia, karna yang ma’sum kan hanya Rasulullah Salallahu ‘Alihi Wassalam.


Termasuk cara kita melihat sesuatu. Manusia memang beragam, masing-masing punya pendapat, pendirian, dan sudut pandang yang berbeda-beda, unik memang. Namun pada realitanya, kebanyakan orang melihat hanya dari apa yang mereka lihat saja. Tak mau berpikir panjang lebar, dan sering kali mengambil kesimpulan hanya dari satu sudut pandang. Jauh dari kata persatuan dan kesatuan bangsa, apalagi keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Norma-norma dasar dalam kehidupan, sepertinya sudah mulai di tinggalkan, entahlah.


Selama kehidupan yang telah kita lalui sampai sejauh ini, harusnya kita sudah mulai mengerti, tentang bagaimana cara kita menghargai. Layaknya kita yang tak ingin dilihat sebelah mata, maka mari kita lihat sesuatu itu tidak hanya dengan sebelah mata. Mulai dari diri kita, membiasakan berbaik sangka, kepada apapun yang ada di hadapan kita. Waspada  itu perlu, tapi berbaik sangka itu wajib.


Baca juga Sebening Prasangka


Seberapa tahu sih kita tentang orang lain ? bukankah setiap manusia punya rahasia ? bukankah selalu ada manusia di balik manusia ? di dunia internet, ada yang biasa disebut dengan deepweb, internet di dalam internet. Di dalamnya ada banyak hal yang tak banyak diketahui oleh banyak orang. Umumnya, user hanya menggunakan internet hanya yang terlihat oleh mata saja. Padahal di balik itu, ada banyak hal.



icssindia.in


Sama halnya dengan  manusia, kebanyakan orang di dunia hanya melihat orang lain dari apa yang mereka lihat saja. Kemudian menyimpulkannya lalu menganggapnya suatu kebenaran. Sejujurnya, kebenaran yang dimaksud itu belum tentu ada. Bisa saja semua itu hanya ilusi, karna semua orang hidup dalam asumsi.


Yang tahu tentang diri kita, ya hanya Tuhan dan diri kita sendiri bukan ? seperti yang dikatakan bang Karni Ilyas, bahwa “Tak semua yang saya tahu dapat saya katakan, dan tak semua yang saya alami dapat saya ceritakan.” Atau mungkin kutipan dari Albert Einstein “not everything in the world can be counted, and not everything can be counted truelly count.”


Entah sudah berapa kali kita mendengar, kita melihat, dan kita menyaksikan. Bagaimana ada banyak orang yang menggunakan kalimat ini “you just know my name” ; “you only know my name, not my story” ; atau kalimat-kalimat sejenisnya yang intinya bahwa kita tak lebih tahu mengenai diri orang lain, selain diri orang lain itu sendiri.


Coba kita lihat, di tulisan sebelumnya “sebening prasangka” udah pernah kita bahas bersama tentang seorang budak. Itu bener-bener cuman seorang budak. Apa sih hebatnya seorang budak ?? saat kita melihatnya sebelah mata, pasti ga ada baiknya kan...? tapi dibalik itu semua, ternyata beliau punya kebiasaan hebat yang tak semua orang bisa melakukannya. Apa itu ? berbaik sangka. Baik kepada sesama manusia, maupun kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Hingga di akhir cerita, beliau diangkat menjadi seorang Sultan. Mustahil memang, tapi begitulah adanya.


Maka ayo, kita bikin kebiasaan hebat, yang tak perlu ada orang lain yang tahu. Bukankah lebih baik dipandang jelek secara cover, tapi dibalik itu kita punya kebiasaan hebat yang tak pernah ada orang lain yang tahu. Dari pada kita dipandang baik, padahal dibalik itu semua kita bukan benar-benar orang yang baik ? well, itu semua pilihan.


Dipandang sebelah mata memang menyakitkan. Kita semua sudah pernah merasakan. Orang yang tak pernah tahu apa-apa soal kita, ng judge kita seenaknya seolah dialah yang berkuasa, dasar manusia. Maka, akan sangat tidak adil jika kita juga melihat orang lain dengan hanya sebelah mata.


Baca juga : Bukan Urusan Kamu


Akan lebih baik, apabila kita sama-sama melihat semua yang kita lihat melalui sudut pandang positif, mulai dari diri kita sendiri. Setiap orang punya kisah yang tidak diketahui oleh orang lain. Soal orang lain melihat kita bagaimana-bagaimana, itu terserah mereka. Tak perlu membalasnya, bahkan dalam Qur’an surat Ali Imran : 159 Allah udah ngingetin kita yang intinya, maafkan aja mereka, bahkan mohonkankan ampun untuk mereka, kita ngga ada ruginya kok.


Kita tahu apa yang harus kita lakukan. Soal diri kita, cukup jalani apa adanya aja. Dan tetap jadilah diri sendiri, kita berhak punya jalan ninja kita sendiri. Daripada kita hidup dalam kepura-puaan, hidup dalam kebohongan, atau hidup dengan raga kita namun dengan jiwa orang lain. Seiring berjalannya waktu, kita akan tahu, siapa yang bertahan, dan siapa yang satu-persatu pergi meninggalkan. Kita akan tahu siapa yang pantas kita perjuangkan.



"Bertahanlah jika betah, dan pergilah jika resah"

Share with your friends

4 comments

Notification
didedikasikan untuk diri sendiri.
Done